20 February 2020

Mengenal Sistem Camera CCTV (Bagian 2)

One Coaxial Camera (Single Coaxial Cable)
Teknik single coaxial  cable tergolong teknologi lama. Melalui teknik ini sinyal video dan power dapat mengalir bersamaan di dalam satu kabel coaxial, tanpa mengakibatkan terjadinya "korsleting". Ini disebabkan karena sinyal video dan power memiliki karakteristik yang berbeda. Video memiliki bentuk sinyal komposit sedangkan power DC berbentuk linear (lurus). Walaupun demikian, untuk "mencampur" kedua sinyal ini diperlukan satu adaptor khusus yang berfungsi pula sebagai "modulator" seperti diperlihatkan pada gambar di bawah ini:


Keuntungan sistem Single Coaxial Cable, diantaranya:
1. Instalasi mudah, karena per camera benar-benar hanya memerlukan satu kabel coaxial saja, tanpa perlu kabel power lagi.
2. Dilihat dari sudut estetika ruangan, satu kabel coaxial lebih enak dipandang ketimbang beberapa kabel yang menjulur dari atas plafon.
3. Tidak perlu memikirkan lagi sumber tegangan untuk camera.
4. Total biaya kabel bisa lebih murah.
5. Instalasi bisa lebih cepat.

Kelemahan Single Coaxial Cable:
1.  Harga camera dan power supply adaptor lebih mahal ketimbang camera biasa (analog).
2. Adaptor/power supply harus khusus, sehingga vendor harus menyediakan cadangannya saat terjadi trouble (tidak bisa diganti dengan adaptor plug-in biasa).
3. Kabel coaxial membawa tegangan 28VDC, sehingga rentan terhadap konslet (harus extra hati-hati dalam instalasinya).
4. Untuk camera moving (bergerak), jika belum built-in, memerlukan alat tambahan yang harganya masih terbilang mahal.
5. Popularitasnya belakangan ini tergusur oleh kehadiran video balun.

Sedangkan untuk instalasi yang lebih profesional tersedia alat yang disebut sistem VDS. Ini bisa menjadi solusi alternatif sekalipun harganya tergolong mahal. Sistem VDS bisa digambarkan sebagai berikut:



Unit yang dekat dengan camera disebut sender (pengirim) sedangkan yang ujung sebelah kanan disebut viewer. Power supply ditempatkan pada unit viewer, sehingga tegangan (baca: arus) bisa mengalir melalui kabel coaxial menuju camera. Tergantung dari panjangnya kabel, maka power supply ini bisa diatur agar tegangan di ujung camera tidak mengalami drop. Pilihannya adalah 18V - 21V - 24V - 27V dan diatur sampai lampu power pada sender menyala merah (tegangan cukup).

Keuntungan sistem VDS ini yang kami bisa catat adalah:
1. Menghemat biaya kabel.
2. Mempermudah dan mempercepat instalasi.
3. Mengurangi gangguan noise dan interferensi.
4. Bisa mentransmisikan sinyal audio, tanpa perlu menarik lagi kabel audio.

Adapun kekurangannya adalah:
1. Peralatannya berharga mahal.
2. Sedikit masalah dalam menempatkan unit sender untuk camera outdoor, karena sender hanya untuk aplikasi indoor.
3. Memerlukan lebih banyak BNC connector yang pada gilirannya justru malah menambah cost!
4. Popularitasnya mulai kalah oleh Video Balun yang dinilai lebih ekonomis.
5. Jarak maksimum "hanya" mencapai 500m (untuk kabel 5C-2V). Bandingkan dengan spec. Video Balun yang bisa mencapai jarak hingga 2000m!

Kendati dinilai sangat reliable, namun sepanjang catatan kami, aplikasi VDS ini tergolong langka (setidaknya pada client kami!). Bagaimana dengan Anda?

Sumber: tanyalarm.blogspot.com atas seijin penulis.

19 February 2020

Mengenal Sistem Camera CCTV (Bagian 1)

Analog Camera dan IP Camera
Pada CCTV, istilah analog camera hanya dipakai saat kita membandingkannya dengan IP Camera dengan tujuan agar bisa dibedakan satu sama lain. Analog camera adalah camera CCTV biasa yang memakai kabel Coaxial, sedangkan IP Camera adalah camera yang memakai kabel UTP Cat 5. Kendati kedua-duanya memakai kabel yang sama,  yaitu UTP Cat 5, tetapi mohon dicatat bahwa IP Camera bukan termasuk ke dalam Video Balun. IP Cam adalah camera yang menggunakan teknologi Internet Protokol (disebut juga dengan protokol TCP/IP), sedangkan Video Balun adalah sistem atau alat pengubah kabel Coaxial ke kabel  UTP. Kedua-duanya memang memakai kabel yang jenisnya sama, yaitu UTP Category 5 (Unshielded Twisted Pair).

Gambar di bawah ini memperlihatkan anatomi dari CCTV sistem analog dengan sistem IP. Perhatikanlah, bahwasanya perbedaan mendasar adalah dari jenis kabel (media) yang digunakan untuk mengirimkan gambar.
 


Keuntungan sistem camera analog, diantaranya:
1. Tidak memerlukan pengetahuan rumit dalam mempelajarinya.
2. Variasi produk sangat banyak, mulai dari Camera, DVR dan peralatan pendukung lainnya.
3. Harga lebih murah dibandingkan IP Camera yang kelasnya sama.
4. Konfigurasi peralatan dan setting lebih mudah.
5. Kualitas gambar sangat baik dan gerakan objek tampak real.
6. Rambatan video bisa lebih jauh, karena kabelnya bisa lebih panjang.
7.Harga DVR (media perekaman) semakin murah.

Adapun kekurangan camera analog adalah:
1. Instalasi kabel sedikit lebih "berat" daripada IP Cam.
2. Harga kabel coaxial dan connector BNC lebih mahal ketimbang kabel UTP dan RJ-45.
3. Memerlukan kabel yang lebih banyak untuk power, data dan video.
4. Lebih mudah dipengaruhi noise dan interferensi.
5. Peralatan yang diperlukan untuk mengintegrasikan sistem bisa lebih banyak.




Keuntungan IP Cam dibanding Analog:
1. Instalasi kabel lebih sedikit dan ringkas.
2. Biaya kabel, connector dan material bantu lainnya bisa lebih murah.
3. Lebih tahan terhadap noise dan interferensi.
4. Jika akan ditransmisikan lewat udara (wireless), maka wireless IP Camera lebih aman dari penyadapan ketimbang analog.
5. Peralatan yang diperlukan untuk mengintegrasikan sistem lebih sedikit.
6. Teknologi TCP/IP terus berkembang pesat, sehingga feature-nya bisa lebih baik untuk masa datang.

Sedangkan kekurangan IP Cam diantaranya adalah:
1. Diperlukan pemahaman yang mantap terhadap dasar-dasar jaringan LAN dan Internet.
2. Setting lebih rumit.
3. Panjang kabel UTP dibatasi oleh angka yang "masyhur", yaitu hanya 100m saja. 
4. Harga cameranya lebih mahal, demikian pula dengan harga adaptor PoE (Power over Ethernet).
5. DVR standalone yang langsung support IP Camera (disebut dengan NVR atau Network Video Recorder) masih sedikit dan sangat mahal.
6. Software NVR masih berharga mahal.
7. Bandwidth menjadi isu penting.
8. Dibanding analog, gerakan objek pada IP Camera umumnya mengalami perlambatan/ seperti gerakan astronot di bulan (moonwalk), kecuali pada produk-produk yang termasuk high-end.

Sumber: tanyaalarm.blogspot.com atas seijin penulis


18 February 2020

Fungsi DDNS Server

Kembali kami mencoba menyingkat uraian ini, yaitu DDNS diperlukan dalam koneksi DVR melalui Internet. Kesimpulannya:


DNS Server mutlak diperlukan, karena untuk mengakses satu situs di Internet, kita lebih mudah menuliskan nama situs ketimbang menuliskan  nomor IP address-nya. Demikian pula halnya dengan DVR yang bisa dianggap sebagai satu situs di internet.


Sedangkan DDNS Server diperlukan agar DVR kita mempunyai satu nama panggilan tetap (host name) di Internet, tanpa kita perdulikan lagi perubahan WAN IP yang terjadi.

Perhatikan diagram di bawah ini untuk satu DVR Standalone dengan nama host name dvrrumah.dvrdns.org:5445 sebagai contoh.  Adapun skenarionya  kira-kira begini (klik gambar untuk memperbesar):



Sumber: tanyaalarm.blogspot.com atas seijin penulis

Masih Seputar DDNS Updater (Sekadar Info)

Apakah anda punya account gratis di DynDNS yang saat ini masih aktif? Jika ya, tidak ada salahnya jika kita coba bermain-main lagi dengan DDNS Updater. Pada permainan kali ini ditampilkan 2 (dua) unit standalone DVR -boleh dari merk yang sama ataupun berbeda- dan 4 (empat) DDNS Server yang berbeda. Adapun skema permainannya adalah seperti diagram di bawah ini:


Terlihat pada diagram di atas, kami mencoba layanan dari No-IP, DNSExit, ChangeIP dan sang legendaris DynDNS. Tidak seperti lazimnya permainan yang menghasilkan winner dan looser, maka percobaan kali ini bukan untuk itu. Tujuan utamanya adalah melihat seberapa cepat masing-masing layanan tersebut bekerja. DVR 1 mendapat 3 layanan DDNS yang di-update melalui software yang dipasang di PC, sedangkan DVR 2 melalui isian pada DVR. Sekilas dalam "situasi buruk" seperti di atas, DynDNS tidak akan ter-update secara periodik saat terjadi perubahan WAN IP, kecuali pada DVR merk tertentu atau yang memiliki feature periodic update. Oleh sebab itu jangan heran apabila nantinya DVR 2 lebih sering mengalami gagal connect ketimbang DVR 1.

Sumber: tanyalarm.blogspot.com atas seijin penulis.

17 February 2020

Video Balun : Mendefinisikan Kembali Jarak


Jika akan dipakai pada jarak maksimal, maka ada baiknya apabila kita meninjau kembali soal jarak. Hal ini berkaitan dengan tahap design system cctvsehingga tingkat keberhasilannya bisa terukur. Baiklah kita mulai dengan melihat beberapa contoh desain di bawah ini.





Desain A



Desain A memperlihatkan konsep dasar dari aplikasi video balun kombinasi "aktif-aktif". Dengan menggunakan tipe produk yang dimaksud, maka jarak yang diklaim bisa mencapai 2000m (2Km). Perhatikanlah, bahwa jarak ini adalah jarak elektrik antara output camera dengan input DVR. Jadi, panjang kabel coaxial dihitung juga. Jarak sejauh ini dimungkinkan, karena TTA-111VH sudah ditambahkan peredam interferensi (extra interference rejection). Sebagaimana diketahui, faktor interferensi inilah yang kerap dituding sebagai biang keladi ganngguan camera dan berkurangnya jarak. Namun, ada beberapa "kritik" terhadap Desain A ini, yaitu: 

1. Kabel UTP tidak "dieksploitasi" secara maksimal, karena kita hanya memakai 1 pair saja.
2. Satu camera memerlukan dua unit video balun aktif.
3. Penempatan balun agak sulit ditentukan.
4. Pemakaian adaptor satu balun satu adaptor.
(atau mungkin anda bisa menambahkannya)

Jika kendala teknis di atas bisa diatasi, maka dengan mengabaikan cost, kita akan memperoleh satu sistem yang bekerja baik pada jarak maksimalnya. Hanya dari segi budget, metoda di atas memerlukan biaya mahal.

Desain B



Berbeda dengan desain A, maka desain B memperlihatkan alternatif yang menurut kami lebih baik, setidaknya dari segi pemanfaatan kabel UTP. Di sini balun TTA-111VT di -"pool" dulu di satu tempat dan hanya di-supply oleh satu buah adaptor saja. Pada sisi kanan bisa dipasang TTA-414VR untuk menggantikan 4 buah receiver 1 channel. Dengan cara ini, kabel UTP dapat dipakai secara optimal. Namun, trade off-nya adalah jaraknya akan secara signifikan, yaitu 1500m saja. Sekali lagi untuk kehati-hatian, jarak ini adalah panjang total kabel yang digunakan (Coaxial plus UTP) atau dengan kata lain jarak dari output camera ke input DVR. 

Konfigurasi di bawah ini semoga bisa memberikan pemahaman yang baik soal jarak yang dimaksud.

Desain C


Setelah diketahui yang dimaksud dengan jarak, maka bagaimana sebaiknya? Jika kita bekerja dengan banyak camera, katakanlah sampai dengan 32 titik, maka yang pertama kali harus diketahui adalah letak (titik) cameranya seperti apa. Lalu tentukanlah, apakah kita akan "mengirim" camera satu demi satu ke control room atau akan "mengangkut" 4 camera sekaligus. Jika tidak ada jalan lain kecuali "mengirimkan" camera satu per satu, maka Desain A-lah yang terpaksa dipilih. Namun, jika cara "mengangkut" 4 camera sekaligus bisa diwujudkan, maka desain B atau C kami pandang lebih optimal. Nah, apakah anda bisa membedakannya?

Sumber: tanyaalarm.blogspot.com atas seijin penulis